Senin, 29 Oktober 2012

“bibir bisa berkata bohong, tapi hati tak akan pernah bisa berbohong”



“bibir bisa berkata bohong, tapi hati tak akan pernah bisa berbohong”



            Kadang rasa ego itu susah untuk dikalahkan, bahkan terkadang sering diikuti dengan kemunafikan dan berujung dengan penyesalan. Mengungkapkan rasa itu kadang tidak semudah mengikhlaskan rasa untuk seseorang. Ketika dia akan hadir di dalam kehidupan kita, kita akan menjadi seperti seorang pejuang yang siap untuk berperang. Menggunakan segala cara dan upaya untuk mendapatkannya.ketika dia hadir didalam kehidupan kita terkadang kita melupakan dia secara tidak langsung. Terdapat banyak kemunafikan, kebohongan hingga berujung pertengkaran kecil dan merembak ke pertengkaran dan permasalahan yang besar. Kata “maaf” hanya satu-satunya senjata yang selalu digunakan ketika kita sudah tidak dapat melakukan apa-apa terlihat berbeda ketika kita menjadi pejuang yang siap berperang untuk mendapatkannya. Menjalin hubungan tak semudah meninjakan kaki ke rumah orang. Kita sudah siap untuk mendapatkan tetapi kita juga harus siap untuk melepaskan. Inilah saatnya kita menyadari bahwa terkadang impian dan kenyataan itu jelas tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kehilangan dia adalah hal terburuk dalam hidup kita apalagi ketika kita sadari bahwa dial ah yang terbaik, dialah yang paling mengerti dengan keadaan kita, dialah yang paling menyayangi kita. Hati siapa yang bisa menebak? Karena kata hati tidak tertulis, kata hati tak bisa berkata melalui bibir yang terlalu banyak mengeluarkan kemunafikan.  Kata hati hanya bisa dirasakan dengan tetesan air mata, pelukan dan kenyataan.                

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar